Pertemuan Tak Berarti
Oleh: Heppyyance
Ini sebuah kisah yang mahal. Kisa
yang terukir dalam sanubari yang terluka. Sebuah perjalanan yang tidak hanya
mencari sosok-sosok yang hilang, tetapi sebuah Upaya mewujudkan harapan. Dalam
liku yang rumit, pelik bahkan hampir kecewa. Lalu pada titik akhir kisah ini,
semua perjalanannya dibayar bukan dengan pelukan tetapi pertemuan antara
kehilangan dan duka. Saat harapan untuk bertemu dibunuh kenyataan pahit bahwa
yang dia pandang Adalah batu-batu yang tertumpuk menyembunyikan yang ia
cari selama ini.
******
Arif melangkah di Lorong yang agak gelap. Melewati beberapa
ruang kosong di sudut kota yang berantakan. Hanya angin dan suara Langkah
kakinya yang mengikuti tatapan matanya yang kosong, sementara suasana Lorong
itu seperti alam tak berpenghuni. Lorong ini bukan hanya saksi perjalanan Arif
untuk bertahan hidup, ia Adalah jalan bagi Arif untuk melihat harapan di luar
sana. Saat Gedung tempat tinggalnya Adalah sarang preman dan tikus, Lorong itu
memberinya nafas lega, karena ia menghubungkannya dengan dunia luar. Kadang
kala Arif tak bisa berbohong kalua air matanya mentes ribuan kali saat melewati
Lorong itu, dan ia Adalah saksi bisu. Tak ada balasan, tetapi lebih baik
demikian, sebab Lorong itu juga tak pernah tertawa saat Arif bergulat dengan
air mata dukanya.
Arif, nama yang tak pernah diberi
oleh orang tuanya sendiri. Bukan karena mereka tak mau, tetapi Arif tak pernah
tau bentuk dan rupa mereka. Arif dibesarkan oleh preman di Gudang tempatnya
tinggal saat ini. Ia diajarkan untuk menghasilkan uang dengan mengemis atau
menjadi pemulung. Selain untuk Mengisi perut, lingkungan preman itu setidaknya
memberi jaminan untuk bisa pulang, walaupun ribuan kali tangan dan kaki
melayang ke tubuh kurusnya. Setidaknya kaki yang tak beralas, baju yang lusuh
dan kumal, wajahnya yang tak terurus dan perut laparnya tidak menghntarnya
kepada maut, walaupun rasanya ia telah mengalami maut setiap harinya. Tidak
berpendidikan, tak mengenal huruf, tidak bisa mengkritisi pemerintah, tidak
membahas politik demiokrasi ataupun menyentil tentang logika keuangan.
Kehidupannya berputar sekitar Gudang kosong dan jalanan.
Arif tidak pernah mengenal siapa
dirinya sendiri atau dari mana keluarganya berasal, mengapa ia sampai hidup di
jalanan. Ia tak mempunyai kesempatan untuk bertanya mengapa dirinya dibuang.
Tanggung jawabnya Adalah menghasilkan uang untuk dirinya sendiri dan para
preman yang sudah seperti keluarga baginya walaupun ia Adalah budak di sana.
Memang ia tak sendirian, tetapi anak-anak lain tidak bernasib seburuk dirinya.
Mereka masih memiliki orang tua walaupun sudah mengangakat tangan untuk
mengurus mereka. Sementara Arif? Tidak ada jawaban untuk setiap kerinduannya
tentang sosok yang melahirkannya selama ini. Dimana mereka sekarang? Entahlah!
Semenjak Arif hidup bersama tikus dan sampah, tak penting untuk bertanya
tentang eksistensi dirinya lagi. Yang penting Adalah bagaimana hidup
sengsaranya tetap terjaga walaupun pahit.
Siang hari menjadi momen untuk kisah
pilunya berlangsung. Sebelum Mentari bersinar, ia harus sudah menuju jalan
raya, mengemis dan setelahnya mengumpulkan sampah untuk dijual. Hasilnya? Ia
dibayar dengan sebungkus nasi, kadangkala nasi yang dia dapatkan dari tumpukan
sampah. Sampah dari mereka yang tau arti bersyukur dan menghargai arti sebutir
beras. Tetapi dari butiran kotor itulah Arif hidup. Setelah menjalani lakon
paling menjijikan itu, Arif pulang ke Lorong gelapnya, tempat tubuhnya
diijinkan untuk berbaring dalam kedinginan dan kelaparan. Di sana, dalam
kegelapan, ia menceritakannya pada malam dengan air mata. Tentang perut
laparnya, tubuh kurusnya, ataupun sakit yang menimpah dirinya, tak jarang rasa
sakit dari sepakan atau pukulan para preman Kembali teringat. Air matanya lebih
jujur dari mulutnya, air mata yang menemaninya selama bertahun-tahun umurnya.
Tak ada perayaan ulang tahun
baginya. Sebab ia tak tahu kapan bumi menyambutnya untuk pertama kali. Kapan ia
menangis di semesta ini. Semuanya hanya sorakan bagi mereka yang terlahir
dengan identitas lengkap. Sementara dirinya? Terlahir dengan telanjang, tanpa
kasih dan sayang. Ia berjalan mengikuti irama kakinya. Selama ia bisa merangkak
dan berpindah, ia akan tetap hidup. Waktu terus bergulir. Dia berharap semuanya
akan baik-baik saja, meskipun kenyataan mengatakan bahwa ia lebih dekat dengan
maut daripada kehidupan. Tetapi bagi Arif semuanya bergantung pada semesta,
kapan ia dipanggil ia sudah siap untuk mati sebagai manusia tak dikenang. Pergi
untuk selamanya tanpa jejak pada kepala dan hati lain. Tidak ada nisan dan
bunga. Ia Adalah bangkai yang terkubur demi tuntutan sosial dan bukan
moralitas.
****
Suatu hari Tuhan menyapanya. Bukan
dalam wujud Cahaya atau semacamnya. Seorang lelaki tua, sekitar 60-an tahun
bertemu dengannya. Bak sihir, bola mata mereka saling memandang. Ada ikatan di
sana, di ujung retina mata mereka terdapat kisah yang harus mereka utarakan.
Orang itu rupanya mengenali sosok kurus, lapar, kumal, dan tak berbentuk di
hadapannya. Arif terdiam seribu Bahasa mencoba menerawang arti tatapan lelaki
tua itu.
Lelaki tua itu bertanya tentang
identitas Arif. Arif menceritakan dirinya sebagai pemulung jalanan tak
berkeluarga, tinggal di Lorong paling gelap dan kelaparan. Air mata laki-laki
itu menetes. Arif diam seribu Bahasa menunggu arti pertemuan itu. Lelaki itu
memluknya. Ia memberi tahu Arif tentang cerita yan harus ia tahu. Sulit bagi
Arif untuk memhaminya. Tak ada alasan baginya untuk menangis mendengar cerita
si lelaki yang tak ia kenal asal-usulnya itu. Lelaki tua itu memaksanya untuk
meningggalkan kota itu. Pergi dari Lorong gelap itu. Menuju tempat yang,
menurutnya Adalah tempat di mana Arif harus berada.
Arif megikuti lelaki tua itu. Mereka
berkendara sekitar 4 jam dari kota tua itu. Arif tak akan pernah tahu bahwa itu
Adalah hari perpisahannya dengan kota jorok ini, dengan para preman dan tikus,
dengan Lorong gelap, dengan sampah dan tangan-tangan empati. Mereka tiba di
sebuah tanah lapang, bertumpuk bebatuan dan beberapa lainnya berebentuk seperti
semen. Itu Adalah kuburan. Lebih tepatnya kuburan umum.
Tidak ada satu katapun dari mulut
Arif yang keluar untuk bertanya tentang arti semuanya itu. Ia terdiam menunggu
penjelasan dari lelaki tua itu.
“Ini…” pria tua itu meneteskan air
mata menunjuk dua kuburan batu di hadapan mereka. “Ini Adalah orang tuamu.” Ia
mencoba menguatkan diri memberi penjelasan kepada Arif yang tak mengerti apa
arti ucapannya.
“Mereka mati setelah dibunuh oleh
warga desa.”
Walaupun Arif masih belum mengerti,
ia bisa merasakan arti ikatan yang sesungguhnya. Air matanya mengalir,
jantungnya berdegup kencang. Suasana mati. Tidak ada hembusan angin di sana.
Bumi tak kuat melihat air mata seorang lelaki yang berada di ambang maut.
Penjelasan singkat lelaki itu tidak hanya menyayat hatinya, tetapi lukanya
tidak akan pernah dibayar oleh apapun. Sebab penyembuhnya telah tertimbun tanah
dan kisah pahit puluhan tahun lalu.
Arif jatuh berlutut di hadapan dua
tumpukan batuan yang mengubur orang tuanya. Di sana kau merasakan arti kasih
yang pernah kau rasakan dan menjadi kerinduan bagimu. Bisakah kau membayarnya
untuk satu detik pertemuan saja? Ahh!! Pertanyaan itu terus menyayat hatinya.
“Ayah dan ibumu dituduh sebagai
dukun santet oleh warga sini. Mereka sepakat untuk membunuh keduanya tengah
malam, lima hari setelah kau lahir. Mereka ditusuk dengan keris lalu di arak
keliling kampung.” Penjelasan tak berkemanusiaan ini membunuh siapa saja yang
mendengarnya, tetapi itu nyata. “Kamu diselamatkan oleh beberapa warga des
aini. Mereka menganggap kamu sebagai malaikat yang takt ahu apapun. Kau
disembunyikan dalam mobil yang menuju kota. Lalu kau menjadi bagian yang tak
teringat lagi. Hilang dalam gelapnya malam.” Demikian lalaki itu melanjutkan
kejadian yang ia saksikan puluhan tahun lalu itu.
Arif tak kunjung berdiri. Merapatkan
kakinya dengan tanah berharap kedua orang tuanya merasakan kehadirannya di
sana. Tak ada kata yang bisa ia ucapkan selain air mata kepedihan. Iat ahu
rasanya sakit karena kehilangan orang yang ia sayangi. Ia tahu betapa sakitnya
membayangkan dari mengucur dari tubuh mereka, meskipun mereka mati dalam gelap.
Semuanya pergi dari kisah yang ia ingin tulis. Ia tahu bahwa Namanya mungkin
lebih indah jika mereka berdua masih ada.
Lebih sakitnya lagi saat ia tahu
bahwa keluarganya memilih untuk menjadi patung saat kejadian itu. Mereka
memilih status quo. Tak ada bahaya jika mereka mengikhlaskannya. Arif
takt ahu di mana mereka sekarang, tak penting juga mengetahui keberadaan
mereka. Satu hal pasti Adalah Arif telah meningggalkan kota busuk dan tikusnya.
Sekarang akan ada cerita baru dalam hidupnya, meskipun rasanya makin menyayat.
Ia akan tinggal bersama lelaki tua itu sambil menunggu mautnya datang. Ia
berharap ajal datang lebih cepat agar ia segera menerima bayaran dari orang
tuanya. Setidaknya pertemuan ini terjadi meskipun tak berarti apapun.
****
Di sana, di hadapan maut, semua tak
berdaya. Dalam jurang pemisah yang dalam, tidak ada kata yang mampu membayar
arti kebersamaan. Maut merenggutnya dari semua orang, menyisahkan kisah dan
kasih. Dalam ingatan mereka yang tersisah, jejakmu terukir.
Di sana, Arif menangis dalam
kerinduan yang tidak dibayar. Mereka telah menjadi tanah dan tragedy. Pergi
sebagai jejak paling menyakitkan bagi dia yang meratapi bebatuan dan tanah.
Tatapan kosong. Sebuah pertemuan paling tak berarti, namun lebih baik ia terjadi.
Setidaknya Arif tahu, bahwa dibalik tanah dan bebatuan itu terdapat kasih dan
cinta untuknya meskipun dalam bentuk kupu-kupu dan mentari. Salam untuk kalian
yang telah menjadi kehilangan bagi siapa saja.

Komentar