Golomori: Sebuah Catatan

Hilarius S. Yance D.

 Gunung Golomori

Selayang Pandang

            Golomori merupakan sebuah desa yang berada di bagian Tenggara Labuan Bajo. Berada sekitar 23 Km dari Labuan Bajo dan membutuhkan waktu 30-45 perjalanan darat. Sebenarnya lintasan laut bisa menjadi opsi juga akan tetapi karena alasan keselamatan dan efisiensi, maka jalan darat menjadi pilihan utama. Selain alasan efisiensi, ternyata jalur darat Golomori juga menyajikan panorama yang memanjakan mata dan menjadi perjalanan penuh kenangan. Itulah alasan mengapa banyak orang datang ke sana, bukan hanya Masyarakat local, sekitar wilayah Golomori tetapi juga wisatawan dari kancah nasional hingga mancanegara.

            Secara etimologis, kata Golomori berasal dari kata bahasa Manggarai, bahasa setempat. Kata Golomori sendiri terdiri dari dua unsur kata, golo dan mori. Golo berarti juga gunung sedangkan mori berarti tuan/Tuhan. Terdapat dua interpretasi utama terhadap makna kata Golomori. Terjemahan pertama mengakatakan bahwa golomori berarti golo ata manga morin/ gunung yang memiliki tuan. Terjemahan kedua mengatakan bahwa golomori merujuk kepada terjemahan Gunung Tuhan. Belum dapat dipastikan kebenaran terhadap kedua interpretasi ini, tetapi secara umum kedua interpretasi itu dapat dibenarkan.

            Golomori sendiri, secara administrative merupakan nama desa. Secara factual, Golomori sebagai desa hanya sebatas identitas administrative. Tidak ada kampung/anak kampung yang Bernama Golomori. Sementara secara factual, istilah Golomori mengacuh pada sebuah gunung. Gunung Golomori, demikian orang mendeskripsikannya. Gunung itu berada di belakang kampung Jarak dan Tao. Sekilas, menurut orang asli di sana, gunung Golomori berbentuk sosok lelaki yang tertidur, namun wajahnya mengarah ke kampung. Masyarakat setempat bisa melihat bentuk muka yang terdiri dari hidung, mata dan mulut yang menyerupai manusia sempurna. Dengan alasan itulah mereka menyebutkan bahwa gunung itu berpenghuni.

            Desa Golomori sendiri terdiri dari 7 anak kampung. Dari pintu masuk arah Labuan Bajo, terdapat kampung Soknar sebagai gerbang utama masuk Golomori. Soknar berada di pesisir Pantai. Setelah itu terdapat kampung Lenteng yang dalam bahasa Indonesia berarti kampung terapung. Disebutkan seperti itu dikarenakan letaknay yang dekat dengan laut, bahkan saat pasang, air bisa sampai ke rumah warga. Lenteng terkenal dengan pasar tradisionalnya, pasar Lenteng. Masih terdapat sistem barter dalam transaksi pasarnya. Setlah Lenteng, terdapat kampung Jarak. Kampung Jarak bersambungan dengan kampung Tao. Setelahnya terdapat dua cabang. Satu jalur menuju kampung Nggoer sebagai kampung terakhir yang berada di bagian Barat Golomori, sedangkan jalan lain mengarah ke kampung Salang Oto/Jati Baru lalu seterusnya menuju Ra’ong.

 

 

Kehidupan Sosial

            Kehidupan Masyarakat Golomori terbilang sudah mengarah ke kehidupan semi-modern. Disebut semi-modern karena Masyarakat sudah terbuka terhadap kebudayaan lain. Masuknya pengaruh budaya Masyarakat pendatang memberi sumbangsih terhadap perkembangan budaya di Golomori. Misalnya kebudayaan yang terpadu. Masyarakat pesisir seperti Lenteng dan Soknar merupakan pendatang dari Bima, Sape dan beberapa wiayah pesisir lainnya. Kedatangan mereka membuka ruang dialog kebudayaan yang kemudian terjadi akulturasi karena pernikahan.

            Secara umum, kemajuan kehidupan tidak berarti kehilangan identitas asli. Masyarakat Golomori sebagai bagian dari Masyarakat Manggarai, masih menjaga kehidupan sosial berdasarkan nilai-niali kehidupan orang Manggarai. Kebudayaan yang dipraktikan mengalami pembauran akibat perpaduan yang terjadi. Misalnya dalam hal prosesi pernikahan, Masyarakat Manggarai yang berada di dataran Tinggi memiliki proses yang cukup kompleks dibandingkan dengan Masyarakat Golomori. Hal ini sering terlihat Ketika terjadi pernikahan dengan Masyarakat dari daerah lain seperti Ruteng, Lembor, Kuwus, dll., terlihat perbedaan yang tidak mencolok namun beberapa metode terdapat perbedaan.

Sistem Kepercayaan

            Pada umumnya Masyarakat Golomori menganut dua keyakinan, Muslim dan Katolik. Muslim masih menjadi mayoritas sedangkan umat Katolik sangat sedikit. Namun demikian dalam urusan keagamaan dan keseharian hidup, terdapat praktik toleransi sejati. Tidak ada persoalan yang mengarah pada intoleran dan Upaya eliminasi satu sama lain.

            Diyakini bahwa Muslim menjadi agama pertama yang ada di Golomori. Dari kehidupan animism dan dinamisme penyebaran Muslim langsung diterima oleh Masyarakat golomori (tidak ada kepastian Tahun). Sementara umat Katolik yang ada di sana merupakan pendatang dan juga terdapat Sebagian Masyarakat setempat yang pindah ke Katolik. Daerah Pesisir seperti Soknar dan Lenteng ditinggali oleh umat Muslim seluruhnya. Sedangkan Jarak, terdapat dua sampai tiga keluarga Katolik. Kampung Tao juga dapat ditemukan sekitar 6-7 keluarga Katolik. Nggoer dihuni oleh 5 keluarga Katolik, dan salah satunya menjadi Pastor, pastor pertama. Beliau adalah RP. Paulus Rahmat, SVD. Salang oto terdapat sekitar 7-8 keluarga Katolik. Kampung Ra’ong sebagai ujung Golomori terdapat 9 keluarga Katolik.

            Penyebaran umat Katolik sendiri terjadi akibat tempat keluarga pendatang menetap. Misalnya di Nggoer, para pendatang dari Lembor yang keluarganya menikah dengan Masyarakat di sana menempati wilayah Nggoer. Kemudian menikah dengan Masyarakat setempat lalu hidup permanen di sana. Sedangkan umat Katolik Tao didominasi oleh pendatang dari keturunan seorang mantan Guru dari Werang yang kemudian menjadi Masyarakat golomori. Wilayah Salang Oto menjadi koloni baru pendatang dari Ceremba dan Nunang. Sedangkan Ra’ong sendiri merupakan pemdatang dari Ra’hong Manggarai Tengah. Umumnya para pendatang sudah tinggak permanen di sana karena sudah mendpat tempat untuk Bertani dan memiliki tanah sendiri.

            Meskipun menganut agama, Masyarakat Golomori masih menjalankan warisan leluhur seperti animism dan dinamisme. Praktik persembahan kepada nenek moyang masih dilakukan sebagai wujud Syukur meskipun dengan intensitas yang rendah. Masyarakat Golomori masih percaya dengan cerita magis yang ditinggalkan dan hidup di tengah Masyarakat. Misalnya prosesi wuat wa’I sebagai bentuk permohonan doa dan tuntunan kepada nenek moyang untuk seseorang yang akan merantau entah karena sekolah maupun pekerjaan. Selain itu, ada prosesi teing hang untuk nenek moyang dalam rangka upacara keagamaan (Idul Fitri dan Natal).

            Kesatuan Masyarakat Golomori dalam nilai kebudayaan mendorong terciptanya kerukunan antar umata beragama, selain alasan pertalian darah akibat pernikahan. Dalam kehidupan sehari-hari misalnya, tidak ada isu penyudutan terhadap doktrin agama lain. Selain itu dalam acara pernikahan ataupun acara keagamaan terdap keterlibatan setiap unsur termasuk perwakilan kegamaan lain. Misalnya saat Natal, umat Katolik yang jumlahnya tidak banyak dibantu oleh umat muslim untuk menyediakan jamuan saat banyak undangan yang datang. Demikian pula dalam hajatan umat Muslim, umat Katolik hadir untuk membantu.

            Nafas toleransi umat Katolik dan Muslim di Golomori dapat menjadi referensi bagi banyak orang untuk mengesampingan kehendak untuk melihat orang lain sebagai nomor dua. Wajah toleransi tidak terbatas oleh ilmu keagamaan yang tinggi, melainkan kerendahan hati untuk saling menghormati.

Mata Pencaharian

            Masyarakat Golomori diuntungkan, dari segi geografis dan sosial. Terdapat bebarapa aktivitas penunjang kehidupan Masyarakat Golomori. Pertanian menjadi penyumbang terbesar kebutuhan pangan pokok. Pertanian lahan basah, menghasilkan padi sedangkan pertanian lain seperti sayur-sayuran dan buah-buahan juga dikembangkan namun skalanya masih lebih rendah dibandingkan pertanian. Hampir semua yang tinggal di dataran tinggi mengelolah sawah dan Perkebunan. Wilayah pesisir, Soknar dan Lenteng menjadi penghasil ikan, semua penduduknya melaut. Para petani menyumbang beras, sedangkan warga Soknar dan Lenteng, sebagai nelayan, memenuhi kebutuhan ikan.

            Penduduk Golomori yang memiliki sawah masih berada di level pertanian subsistem. Artinya jumlah beras yang dihasilkan masih tergolong cukup untuk kebutuhan sehari-hari saja. Hal ini dipicu oleh sistem irigasi yang belum optimal. Pengairan sawah masih mengharapkan hujuan, sehingga sawah dibajak hanya sekali dalam setahun. Untuk memenuhi kebutuhan lain Masyarakat harus bekerja serabutan agar bisa menghasilkan uang. Banyak lahan yang masih belum digunakan untuk kegiatan pertanian sebab irigasi belum bisa mendorong aktivitas pertanian yang lebih optimal.

            Selain berkebun dan Bertani, Masyarakat juga memelihara ternak seperti ayam, sapi, kerbau dan kambing. Kambing dan ayam dipelihara sedikit lebih baik. Karena kebutuhan makanan dan perhatian yang rendah, maka ayam dan kambing lebih mudah untuk dijaga. Sementara untuk kerbau dan sapi menggunakan metode pemeliharaan yang cukup memprihatinkan. Penduduk masih membiarkan ternaknya, api dan kerbau hidup di alam bebas. Tanda pengenal kepemilikan yang digunakan adalah cap pada badan atau ukiran pada telinga yang ditambah selang berwarna agar lebih mudah dikenal.

            Beberapa persoalan yang dapat menjadi masalah serius adalah inovasi pertanian dan peternakan yang masih rendah. Selain ekpansi pertanian, intensifikasi juga belum dioptimalkan. Misalnya pengelolahan lahan belum diperhatikan sepenuhnya atau juga pemaksimalan lahan untuk peluang lain seperti sayur-sayuran masih belum dilakukan. Padahal Golomori bisa menjadi penyumbang kebutuhan pangan pokok di Labuan Bajo untuk kepentingan pelaku wisata. Rendahnya penggunaan teknologi baru juga perlu menjadi catatan.

Sumber Daya Manusia

            Penduduk Golomori masih jauh dari kata Sejahtera. Pendapatan per kapita masih belum layak untuk mencukupi kebutuhan pokok apalagi untuk menunjang kebutuhan Pendidikan dan Kesehatan. Tingkat Masyarakat yang mendapat akses Pendidikan masih rendah, kalaupun bersekolah, mereka mencari sekolah yang paling murah bukan sekolah yang berkualitas baik. Kesadaran akan Pendidikan bukan hanya stag akibat kurang literasi, tetapi dukungan materil belum bisa mendorong orang untuk bersekolah.

            Sekolah di Golomori berjumlah 6 sekolah, yang terbagi menjadi 3 Sekolah Dasar (SD); 1 SMP Negeri; 1 MTS dan satu SMK. Jumlah yang minim untuk Masyarakat Golomori. Letaknya pun masih belum merata. SDN Jarak terletak di Tao, Ibu Kota desa golomori; SDI Soknar terletak di Soknar; SDI Raong terletak di Raong. SMPN 1 SATAP JARAK terletak di Tao. MTS terletak di Ra’ong dan yang terakhir SMK Muhammadyah terletak di Jarak. Kualitas fasilitas dan akademik perlu diperhatikan. Selain karena terletak di daerh terpencil, perhatian terhadap sekolah-sekolah di sana juga terbilang masih rendah. Hal itu dapat dilihat dari Pembangunan fasilitas dan perhatian kepada para pengajar/guru.

            Dari segi Kesehatan, Golomori masih jauh dari harapan. Faktor kultural dan structural bisa dijadikan referensi ketimpangan ini. Dari sisi kulutral tampak dari kualitas kehidupan masyaraakat yang belum menjunjung pola-pola hidup sehat. Selain itu, factor budaya yang masih melekat, yang berpengaruh terhadap interpretasi Kesehatan juga menyumbang alasan untuk itu. Misalnya kepercayaan terhadap unsur magis saat sakit menyebabkan penanganan terhadap yang sakit sedikit mengalami hambatan. Sisi structural menekankan aspek kebijakan public yang belum menjawabi tuntutan utama, fasilitas Kesehatan dan tenaga Kesehatan. Pada 2022 baru terdapat Puskesmas dengan layanan yang belum optimal.

            Pendapatan Masyarakat Golomori masih bertumpuh pada kehidupan sub-sistem, mengelolah untuk kehidupan sehari-hari. Masyarakat membutuhkan kualitas manajemen yang lebih baik lagi, serta perhatian untuk dibimbing menuju Masyarakat yang lebih Sejahtera. Pertanian, perikanan, Perkebunan, peternakan adalah bidang Garapan yang potensial namun belu dimanfaatkan secara maksimal. Banyak masyarakata yang terbilang miskin secara relative (belum mampu memenuhi kebutuhan sekunder dan tersier).

Memandang Jauh

            Setelah Labuan Bajo menjadi salah satu Kawasan super prioritas, Golomori juga terdampak. Investor berdatangan untuk membeli lahan di daerah Golomori. Hampir seluruh Kawasan Golomori yang berlokasi strategis sudah dimiliki oleh orang luar. Penjualan tanah ini dimaknai lebih dari penjualan asset, tuntutan kehidupan yang tinggi membuat Masyarakat harus melepaskan tanah mereka. Namun, nahasnya, kualitas manajemen keuangan yang rendah berkontribusi pada inefisiensi keuangan. Dari yang uangnya miliaran rupiah, kini mereka harus bekerja serabutan lagi demi memenuhi kebutuhan hidup.

            Sebagai daerah potensial, Golomori harus disiapkan untuk tujuan yang mulia, Pembangunan yang memakmurkan rakyat serta menjaga identitas kebudayaannya. Masuknya pariwisata harus diimbangi kualitas manusia yang tidak hanya siap bekerja, namun bertumpu pada kearifan dan nilai-nilai local. Lokalitas ini bertujuan untuk menyelamatkan Golomori dari eksploitasi budaya, sumber daya alam serta sumber daya manusia. Persipan ini dimaknai dalam banyak bentuk. Persiapan secara SDM terbilang penting, mengingat manusia adalah motor kemajuan. Lebih dari sekedar menjadi penggerak, Masyarakat harus menjadi kontroler kemajuan. Harmonia in progression/ keselarasan dalam kemajuan.

            Pembinaan terhadap generasi muda perlu dilakukan, mengingat mereka adalah calon pemegang estafet di kemudian hari. Golomori adalah milik bersama, merupakan keharusan untuk dijaga sebagai daerah yang unik dan berkarakter. Kemajuan tidak diberi ruang untuk mengeliminasi karakter dan keaslian Golomori. Peluang-peluang yang akan datang harus bisa diidentifikasi untuk kemudian formulasikan sesuai dengan Golomori sebagai daerah yang bermartabat. Masyarakat jangan ditinggalkan dalam konteks Pembangunan ini. Pembangunan SDM melahirkan pertumbuhan ekonomi yang lebih stabil dan menjawabi kebutuhan Masyarakat.

Sepucuk Surat untuk Golomori

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Seanggun Janji Semesta

Artificial Intellegence VS Pelajar (Menengok Realita dan Membangun Harapan)

DEMOKRATISASI MELALUI REFORMASI DEMOS