BANGKIT: MENUJU HARMONISME DIRI, SOSIAL & EKOLOGIS
Sumber: tirto.id
Oleh: Hilarius S. Yance D.
Prolog
Tema paskah 2026
dibalut dengan kalimat yang indah, “Kristus Bangkit Membaharui Kemanusiaan Kita.”
Kalimat ini memberi penekanan pada makna kebangkitan Kristus bagi dunia.
Kedatangan-Nya memulihkan manusia dari dosa, putus asa dan belenggu kegelapan.
Tema ini relevan saat ini. Permenungan terhadap arus perubahan harus
dikumandangkan. Kehidupan manusia yang terus mengalir dalam waktu menuntut
tempat untuk bertepi sejenak, melihat kembali arah yang tepat. Dalam balutan
nuansa perubahan yang kian semarak, merupakan keharusan untuk kembali menemukan
arti keberadaan diri dalam ruang kebersamaan (sosial) serta alam ciptaan.
Relevansi ini penulis tuangkan dalam
butiran refleksi seputar tema paskah yang dirayakan. Hendaknya kebangkitan
Kristus yang dirayakan dalam pesta paskah bukan hanya rutinitas tahunan, tetapi
sebuah titik pencerahan. Kembali menemukan terang dalam makna hidup sehari-hari,
entah secara pribadi juga dalam kehidupan bermasyarakat serta alam semesta. “Bangkit:
Menuju Harmonisme Diri, Sosial dan Ekologis” merupakan sebuah ajakan reflektif
untuk melihat realitas keberadaan diri serta tanggung jawab sosial dan ekologiss.
Harmonisme Diri
Sejak awal mula
manusia merefleksikan dirinya sendiri, ia menggunakan pikiran sebagai pemeran
utama dalam memahami apa artinya menjadi “manusia” (Antiqua et Nova, 2025).
Pemahaman terhadap diri sendiri adalah awal sekaligus puncak pengetahuan. Manusia
hanya akan memahami realitas lain (sekitar) setetlah memahami siapa dirinya
dalam ruang hidupnya. Pengenalan diri sebagai cara untuk membangun harmonisme
hidup bersama (sosial dan ekologis) adalah langkah penting untuk membangun kualitas
hubungan yang baik.
Harmonisme diri, sebagaimana tajuk
tulisan ini berarti bangkit menjadi pribadi yang mengenal diri, menerima
keberadaan diri, serta menggunakan kebebasan pribadi sebagai jalan memberi
kontribusi. Memahami diri dalam perkembangan dunia yang kompleks ini merupakan
konsekuensi yang tidak dapat ditunda. Urgensitas memulihkan hubungan antara
jiwa dan raga, antar anggota tubuh, adalah terang bagi diri. Kebangkitan diri
menjadi lebih harmonis dimaknai dalam Tindakan mencintai diri dengan merawat
tubuh sebagai anugerah serta membiarkan jiwa dituntun oleh terang dan
kebijaksanaan.
Dalam realitas kontemporer, pemaknaan
yang salah terhadap kebebasan pribadi dan arti kebahagiaan yang sejati telah
meruntuhkan keutuhan tubuh serta menyiksa jiwa. Bunuh diri, konsumsi yang berlebihan,
hedonisme, dll. seakan memberi janji kebahagiaan terhadap tubuh dan jiwa.
Kristus yang bangkit memberikan pesan, tubuh adalah Rahmat berlimpah yang harus
dijaga keutuhannya; dan jiwa sebagai penggerak, harus menuntun manusia pada
jalan keselamatan. Keselamatan kekal serta kesejahteraan hidup sebagai manusia.
Cinta diri yang dimaksud berimplikasi terhadap kemampuan untuk menemukan arti
diri sebagai manusia yang utuh. Manusia yang menghargai tubuh dan jiwanya.
Memandang diri sebagai bait Allah
serta ciptaan yang unik mesti direnungkan dengan cermat. “mens sana in
corpore sano” (Rufus Patty Wutun, 2019) merupakan tanggung jawab untuk
menjaga diri serta menjadikanya alat untuk menjawab panggilan pembebasan yang
dimulai dari diri sendiri lalu orang lain dan alam ciptaan. Harmonisme diri
adalah keutuhan sebagai pribadi. Mengenali diri dengan cara yang tepat untuk
memberikan kontribusi bagi sekitar berdasarkan keunikan dan kesanggupan
masing-masing.
Harmonisme Sosial
Manusia adalah
makhluk sosial, artinya manusia hidup bersama orang lain. Selain karena manusia
berkembang dan bertumbuh dengan bersosialisasi, kehadirannya sebagai pribadi
juga memberikan kontribusi bagi perkembangan orang lain. Demikianlah pentingnya
memahami diri agar kontribusi yang diberikan bagi kehidupan bersama merupakan
nilai-nilai konstruktif. Maka keutuhan sebagai makhluk komunal berarti juga
kesatuan membangun Persekutuan hidup di tengah perbedaan latar belakang, cara
pandang, dsb.
Harmonisme sosial mendapati jalan
buntu. Pasalnya, dalam kehidupan modern, transformasi digital serta
perkembangan teknologi tidak hanya menghantar manusia pada disrupsi informasi
dan mobilisasi yang intens. Kerenggangan relasi serta munculnya sekat-sekat
yang dihasilkan oleh wacana provokatif, sering kali mempolarisasi Masyarakat dalam
kehidupan partikuler. Sekat-sekat ini memenjarakan harmonisme jauh dari
kebersamaan.
Harmonisme sosial menyentuh seluruh
aspek kolektivitas kehidupan manusia. Sosial, Ekonomi, Budaya, Politik, Religi,
Bahasa, Pendidikan, Teknologi Hukum, dll. Sebagai Kumpulan yang diikat dalam
konteks di atas (baca: aspek kehidupan), peran setiap orang sangatlah penting menyangga
agar setiap aspek itu tetap tegak. Tujuan utamanya adalah untuk mendorong
kehidupan sosial yang lebih harmonis, adil dan Sejahtera. Menyadari perbedaan
karakter, budaya, latar belakang dan cara pandang, mengharuskan setiap orang
untuk membangun sendir Persekutuan yang kuat dengan tetap berdasar pada
nilai-nilai kehidupan. Bukan hanya nilai kehidupan partikuler (agama, budaya,
etnis tertentu), tetapi pada nilai kemanusiaan sejati.
Kerukunan hidup bersama adalah panggilan
untuk mengambil bagian dalam kebersamaan yang taat pada hukum, Sejahtera secara
ekonomi, rukun beragama serta merawat tolerasnsi. Kebhinekaan dalam hidup
bersama adalah bumbu-bumbu penyedap persatuan. Maka panggilan harmonisasi
berarti kemampuan untuk meracik cita rasa yang utuh menggunakan
perbedaan-perbedaan yang ada.
Keharmonisan sosial adalah memadukan setiap diri (orang) dalam dinamika
dan interaksi kehidupan yang rukun (sebagai anggota keluarga, lingkungan,
gereja, negara dan dunia). Keselamatan bersama, sebagai panggilan manusia Paskah
harus terungkap dalam kemampuan melihat perbedaan sebagai fakta yang tidak
terbantahkan, namun bukan sebagai sekat pemisah.
Harmonisme Ekologis
Tuhan menitipkan manusi dan makhluk
lain pada semesta yang indah dan berkelimpahan. Keindahan dan kelimpahan itu
adalah pemberian untuk melanjutkan hidup yang lebih adil dan Sejahtera.
Tanggung jawab utama manusia adalah merawat alam ciptaan agar tetap Lestari.
Pandangan ini merujuk pada hasil akhir, mewariskan warisan Tuhan bagi mereka
yang akan datang di hari esok (anak cucu). Namun demikian, egoism, keserakahan
dan ketamakan manusia telah merenggut kebahagiaan alam semesta. Eksploitasi
alama, pencemaran lingkungan telah mewabahi ciptaan indah itu. Bencana alam
akibat ulah manusia adalah bukti dosa dan kesewenang-wenangan manusia pada titipan
Tuhan.
Paskah mengingatkan kita pada arti
keselamatan yang ditawarkan oleh Yesus, keselamatan sebagai ciptaan yang
integral (diri, sosial dan semesta). Panggilan ini urgen sebab manusia terancam
oleh karena alam semesta telah berubah menjadi sirkus penuh bahaya. Tanggung jawab
ekologiss merujuk keharusan menjaga kelestarian alam untuk diwariskan. Panggilan
ini menjadi lebih serius, sebab tuntutannya disampaikan kepada semua orang demi
keselamatan bersama.
Disadari, interaksi alam (lingkungan
hidup/flora, fauna), menunjang harmonisme hidup manusia; juga menjadi penyedia
makanan dan kebutuhan manusia, harus dibayar dengan kemampuan untuk bertanggung
jawab atas kesejahteraan alam ciptaan. Ketamakan dan kerakusan untuk memenuhi
gengsi manusia mengancam eksistensi alam serta keselamatan manusia itu sendiri.
Maka harmonisme ekologiss yang dimaksudkan di sini adalah kebangkitan menuju
ciptaan yang lebih rukun dengan alam semesta. Menyelamatkan bumi dari keinginan
untuk merusak serta mengeksploitasi bumi tanpa henti.
Kebutuhan manusia harus tetap selaras
dengan konsekuensi menjaga alam. Konsekuen berarti tanggung jawab yang tidak
mengenal toleransi terhadap perilaku menyimpang kepada alam. Tuhan yang bangkit
menuntut manusia untuk bangkit pula dari praktik kehidupan yang gelap dan terkubur
dalam kemerosotan tanggung jawab ekologiss. Menjaga ekosistem alamiah alam
semesta merupakan harmonisasi ekologiss. Membiarkan alam tetap utuh (integration
of creations) adalah bukti kebangkitan sejati.
Epilog
Paskah kali ini
menuntut kesadaran utuh sebagai pribadi yang bertanggung jawab dalam kehidupan
bersama dan alam semesta. Desakan ini terus dikumandangkan dalam realitas
kehidupan yang terus menjauhi sumbu kehidupan sejati (Kristus). Keselarasan
dalam Kristus berarti menjawabi panggilan untuk bertanggung jawab terhadap diri
sendiri, kehidupan bersama serta lingkungan hidup. Manusia Paskah adalah
manusia yang bangkit dari kegelapan dan mencari keselamatan dalam dirinya sediri,
dalam Masyarakat serta dalam dunia titipan ini.
Semoga Tuhan, Terang Sejati, menuntun
semua orang kepada kebangkitan sejati!
.jpg)
Komentar